Makna Filosofis pada Lauk Nasi Tumpeng

Ada makna filosofis pada setiap bagian tumpeng tradisional. Menurut cerita rakyat di Jawa dan Bali, nasi tumpeng berbentuk kerucut merupakan simbol mistik kehidupan dan ekosistem. Ini juga melambangkan kemuliaan Tuhan sebagai Pencipta alam, dan lauk pauk dan sayuran mewakili kehidupan dan keharmonisan alam. Hidangan tumpeng yang otentik dan lengkap harus mengandung setidaknya satu daging untuk mewakili hewan darat, ikan untuk mewakili makhluk laut, telur untuk mewakili binatang bersayap, dan sayuran yang mewakili persediaan makanan yang disediakan oleh kerajaan tumbuhan. Biasanya tumpeng disajikan dengan bayam karena bayam merupakan simbol tradisional kemakmuran masyarakat pertanian Jawa.

Berikut adalah makna filosofis di balik beberapa bahan dalam tumpeng:

    Telur: Telur disajikan dengan cangkang yang masih ada. Mengupas telur sebelum memakannya melambangkan segala sesuatu yang harus direncanakan dan dilakukan seseorang sebelum menjadi orang baik.

    Sayuran: Sebungkus sayuran melambangkan hubungan baik dengan teman dan tetangga. Bayam mewakili kehidupan yang aman dan damai; kangkung mewakili orang yang bisa hidup melalui kesulitan; kacang panjang melambangkan umur panjang; dan taoge melambangkan pembawa warisan nenek moyang.

    Lele: Lele mewakili pentingnya mempersiapkan masalah di masa depan. Ini juga melambangkan kerendahan hati, karena ikan lele hidup di dasar kolam.

    Bandeng: Banyaknya tulang bandeng melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di masa depan.

    Ikan Teri: Karena mereka hidup bersama, ikan teri mewakili hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangga.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *